Sabtu, 04 Januari 2025

Jejak yang Tertinggal

Oleh : Azizah Nur Islami

Aku dan Anya selalu bilang bahwa kami adalah dua sisi dari koin yang sama. Segala hal tentang kami terasa seperti cerminan: hobi yang sama, mimpi yang sejalan, bahkan selera humor yang nyaris identik. Jika aku mendengarkan lagu baru, aku tahu lagu itu juga akan masuk daftar putar favorit Anya. Jika Anya membaca buku yang menarik, aku tahu aku akan jatuh cinta pada ceritanya. Kami adalah sahabat yang tidak terpisahkan, seperti langit dan bintang.

Hari itu, aku masih ingat betul. Anya dan aku duduk di bawah pohon beringin besar di taman kota. Matahari hampir terbenam, mewarnai langit dengan semburat jingga yang hangat. Kami sedang berbicara tentang rencana masa depan, tentang mimpi-mimpi yang ingin kami raih bersama.

"Kamu pikir sepuluh tahun lagi kita bakal seperti apa?" tanyaku sambil melempar batu kecil ke arah rerumputan.

Anya tersenyum. "Aku nggak tahu persis, tapi aku yakin satu hal: kita pasti tetap bareng. Entah itu di tempat kerja, di jalan-jalan dunia, atau sekadar nongkrong di taman ini lagi."

Aku tertawa, merasa yakin dia benar. Dalam benakku, tidak ada skenario di mana aku harus menjalani hidup tanpa Anya.

Namun, kenyataan sering kali punya cara menyayat hati tanpa aba-aba.

Seminggu kemudian, Anya mengalami kecelakaan. Telepon darurat dari rumah sakit memecah malamku, membawa kabar yang tak pernah kuharapkan. Aku berlari ke sana dengan harapan bahwa ini semua hanya salah paham. Tapi, saat tiba, dokter hanya menggeleng pelan, dan aku tahu dunia tidak akan pernah sama lagi.

Hari-hari setelah kepergian Anya terasa seperti mimpi buruk yang terus berulang. Aku berjalan melewati waktu seperti seorang pengembara tanpa arah. Di kamarku, koleksi buku yang kami baca bersama kini hanya menjadi pengingat yang menusuk hati. Lagu-lagu favorit kami terdengar asing tanpa tawa Anya yang menyertainya.

Namun, di tengah duka, aku menemukan jejak-jejak Anya yang tertinggal. Sebuah surat yang ditulisnya untukku, terselip di antara halaman buku favoritnya. Dalam surat itu, dia menulis:

"Dear kamu, sahabatku yang paling kusayang, Kalau kamu baca ini, berarti aku mungkin sudah nggak di sana untuk mendengarkan celotehanmu lagi. Tapi aku ingin kamu tahu, setiap kenangan yang kita ciptakan adalah hadiah terbesar yang pernah aku miliki. Jangan pernah berhenti bermimpi, meski aku nggak bisa ada di sana untuk menyemangati kamu lagi. Kamu harus terus hidup dengan sepenuh hati, karena aku akan selalu ada di sana, di setiap tawa, di setiap langkahmu.

Love, Anya."

Aku menangis, bukan hanya karena kehilangan, tapi juga karena merasakan cinta yang begitu tulus dari sahabatku. Surat itu mengajarkanku untuk melihat ke depan, meski langkahku terasa berat.

Kini, setiap kali aku membaca buku baru, mendengarkan lagu baru, atau menjelajahi tempat baru, aku merasa Anya ada di sana, tertawa bersamaku. Meski dia sudah pergi, jejaknya akan selalu tertinggal di hatiku, membimbingku untuk terus berjalan.

Bandung, 5 Januari 2024

Tidak ada komentar:

Posting Komentar