Sabtu, 04 Januari 2025

Jejak yang Tertinggal

Oleh : Azizah Nur Islami

Aku dan Anya selalu bilang bahwa kami adalah dua sisi dari koin yang sama. Segala hal tentang kami terasa seperti cerminan: hobi yang sama, mimpi yang sejalan, bahkan selera humor yang nyaris identik. Jika aku mendengarkan lagu baru, aku tahu lagu itu juga akan masuk daftar putar favorit Anya. Jika Anya membaca buku yang menarik, aku tahu aku akan jatuh cinta pada ceritanya. Kami adalah sahabat yang tidak terpisahkan, seperti langit dan bintang.

Hari itu, aku masih ingat betul. Anya dan aku duduk di bawah pohon beringin besar di taman kota. Matahari hampir terbenam, mewarnai langit dengan semburat jingga yang hangat. Kami sedang berbicara tentang rencana masa depan, tentang mimpi-mimpi yang ingin kami raih bersama.

"Kamu pikir sepuluh tahun lagi kita bakal seperti apa?" tanyaku sambil melempar batu kecil ke arah rerumputan.

Anya tersenyum. "Aku nggak tahu persis, tapi aku yakin satu hal: kita pasti tetap bareng. Entah itu di tempat kerja, di jalan-jalan dunia, atau sekadar nongkrong di taman ini lagi."

Aku tertawa, merasa yakin dia benar. Dalam benakku, tidak ada skenario di mana aku harus menjalani hidup tanpa Anya.

Namun, kenyataan sering kali punya cara menyayat hati tanpa aba-aba.

Seminggu kemudian, Anya mengalami kecelakaan. Telepon darurat dari rumah sakit memecah malamku, membawa kabar yang tak pernah kuharapkan. Aku berlari ke sana dengan harapan bahwa ini semua hanya salah paham. Tapi, saat tiba, dokter hanya menggeleng pelan, dan aku tahu dunia tidak akan pernah sama lagi.

Hari-hari setelah kepergian Anya terasa seperti mimpi buruk yang terus berulang. Aku berjalan melewati waktu seperti seorang pengembara tanpa arah. Di kamarku, koleksi buku yang kami baca bersama kini hanya menjadi pengingat yang menusuk hati. Lagu-lagu favorit kami terdengar asing tanpa tawa Anya yang menyertainya.

Namun, di tengah duka, aku menemukan jejak-jejak Anya yang tertinggal. Sebuah surat yang ditulisnya untukku, terselip di antara halaman buku favoritnya. Dalam surat itu, dia menulis:

"Dear kamu, sahabatku yang paling kusayang, Kalau kamu baca ini, berarti aku mungkin sudah nggak di sana untuk mendengarkan celotehanmu lagi. Tapi aku ingin kamu tahu, setiap kenangan yang kita ciptakan adalah hadiah terbesar yang pernah aku miliki. Jangan pernah berhenti bermimpi, meski aku nggak bisa ada di sana untuk menyemangati kamu lagi. Kamu harus terus hidup dengan sepenuh hati, karena aku akan selalu ada di sana, di setiap tawa, di setiap langkahmu.

Love, Anya."

Aku menangis, bukan hanya karena kehilangan, tapi juga karena merasakan cinta yang begitu tulus dari sahabatku. Surat itu mengajarkanku untuk melihat ke depan, meski langkahku terasa berat.

Kini, setiap kali aku membaca buku baru, mendengarkan lagu baru, atau menjelajahi tempat baru, aku merasa Anya ada di sana, tertawa bersamaku. Meski dia sudah pergi, jejaknya akan selalu tertinggal di hatiku, membimbingku untuk terus berjalan.

Bandung, 5 Januari 2024

Minggu, 14 Juni 2015

Tittle-Tattle

AR-RISALAH
TITTLE-TATTLE

Tittle-Tattle alias ghibah, ngegosip, ngegunjing atau istilah panjangnya ngomongin hal-hal negatif, yang kadang benar kadang salah, mengenai orang lain. Asyik? Pweeh.. serasa ngga ada habisnya! Di ulang-ulang pun tetep aja enak kaya dengerin lagu favorit. Nggak nyadar kalau ngegosip itu buruk? Nyadar sih, kadang, seringnya … tau sendirilah…

Hukum ghibah atau ngomongin keburukan orang lain sudah jelas. Haram dan dosa besar. Seharam apa dan sebesar apa dosanya? Persis seperti kamu mengiris telinga, atau daging tangan seseorang yang kamu gunjing, dikasih kecap ma saos, panggang sebentar trus dimakan deh bareng temen-temen sepergunjingan. Enak? Blwehh..

Tapi ada hal lain yang patut kamu waspadai mengenai ghibah yaitu bahwa ghibah itu bergilir. Bergilir?piala? benar, bergilir. Saat ini kamu asyik ngomongin kejelekan orang baik yang sudah pasti atau belum, lain waktu, kejelekanmulah yang bakal jadi sajian di majelis yang tentunya kamu absen di dalamnya.
Percaya karma? Muslim tidak mengenal karma tapi kenal hadits “kama tadiinu tudaanu”, seperti apa kamu memperlakukan, seperti itu kamu akan diperlakukan. Dan ini bukan skenario takdir yang rumit. Apa kamu pikir, kamu dan kawan-kawanmu satu majelis ghibah itu bakal pilih-pilih siapa yang bakal dipotong telinganya lalu dibuat pesta? Atau menyepakati satu hal: satu majelis ghibah gak saling menggunjing? Tidak, semua akan jadi mangsa termasuk kamu, suatu saat.

Maka hindarilah ghibah dan jauhi sejauh-jauhnya penggemar ghibah. Dihadapanmu, penggemar ghibah akan memangsa daging orang lain, dan saat tak bersamamu, ia akan memangsa dagingmu bersama orang lain.
Jauhi ghibah. Kamu masih muda, jangan biarkan lembar catatan amal mudamu dikotori oleh dosa besar yang menjadi kebiasaan ibu-ibu arisan. Gengsilah sama malaikat.

Ramadhan time to change

Assalamu’alaikum wr.wb

Bagaimana kabarnya teman-teman ? afwan nih baru kasih kabar lagi, karena saya baru saja selesai UN dan Alhamdulillah lulus.
Oiyah temen-temen suka baca majalah gak nih ? salah satunya majalah Ar-Risalah, nah kalau aku suka banget baca majalah ini, dan ada satu edisi majalah yang akan saya beritahu untuk teman-teman semua, selamat membaca yahh J

From : Ar-Risalah

RAMADHAN TIME TO CHANGE

Ketika teman-teman di facebook dan whatsapp mulai mengingatkan kita untuk mempersiapkan diri menyambut ramadhan, banyak hal yang segera terbesit di pikiran kita. Tentang mengoptimalkan waktu dengan membaca al-Qur’an, memperbanyak shalat sunnah, mengurangi tidur, dan aneka ketaatan lainnya.
Itu adalah situasi yang sebagian besar kita alami. Kita memulai setiap ramadhan dengan penuh niat baik, penuh rencana, penuh tujuan yang ingin di capai. Ketika masuk bulan ramadhan, sabuk pengaman segera kita pasang dan pedal gas kita tekan kuat-kuat. Yang sebelumnya bisa berlari dengan kecepatan 60 km/jam digeber menjadi 120 km/jam. Akhirnya setelah memasuki beberapa hari ramadhan, energy kita perlahan habis.
Aktivitas mulai melambat, bahkan tak sedikit yang kemudian macet, berhenti.

Nah, bagaimana bila kita melakukan hal-hal yang berbeda tahun ini ? bagaimana jika kita membuat keputusan sadar agar tidak capek dan jatuh ? untuk melihat bulan Ramadhan itu sendiri sebagai tempat latihan sehingga setelahnya kita sudah terbiasa berlari cepat.
Untuk menggunakan bulan Ramadhan sebagai waktu bertumbuh, untuk transformasi dalam jangka panjang.
Hal yang akan kita bahas bukanlah hal baru. Yang pasti kita semua berharap ada perubahan positif selama bulan ramadhan. Tapi yang coba kita lakukan tahun ini adalah mengambil pendekatan jangka pendek untuk ibadah kita di bulan ramadhan.

Apa yang akan kita lakukan selama bulan ramadhan dan bisa berlanjut setelahnya ? dapatkah kita membuat rencana yang realistis yang memungkinkan kita tetap terhubung dengan Al-Qur’an sepanjang tahun ? intinya, kita menanam benih di bulan ramadhan yang akan berkembang serta berbuah di bulan-bulan ramadhan setelahnya.

1.  1.   INTROPEKSI
Ini adalah langkah pertama. Mencari jauh dalam diri kita dengan penuh cinta dan kejujuran dan memutuskan bagian mana yang ingin kita ubah. Kita cari tahu kelemahan dan kekuatan, dimana kita perlu membuat perubahan, dan bagian mana yang perlu kita dorong lebih keras. Jadi, ini adalah waktu untuk melihat ke dalam, tanpa rasa takut, dan berani untuk mempertimbangkan perubahan.
Sifat buruk yang kita lakukan berulang kali selama bertahun-tahun mungkin telah berubah menjadi kebiasaan. Ini sering menjadi bagian yang paling sulit diubah karena ia telah menyatu dan menjadi karakter.
Mungkin kita sering terlambat, sering ngomong kasar, suka menunda, atau tidak peduli dengan orang lain. Kita perlu bertanya pada diri sendiri apakah sifat tersebut yang akan kita persembahkan dan banggakan pada Allah ? Bila tidak, saatnya untuk berubah.

2.    2VISI
Kita perlu membuat gambaran tentang perubahan seperti apa yang kita harapkan. Gambaran ini perlu agar kita bisa menyusun langkah konkrit untuk menuju ke sana.
Misalnya kita ingin berhasil menghafal Al-Qur’an secara sempurna dan berprestasi di sekolah maka kita akan menghabiskan sedikit waktu di media sosial dan mengurangi jam bermain.
Selain itu berdoalah kepada Allah agar Dia memudahkan visi kita bila itu baik bagi dunia dan akhirat.

3.    3ORGANISASI
Ada banyak rujukan yang bisa kita pakai untuk membantu kita berubah di bulan ramadhan, tapi yang terpenting adalah kita melakukan secara teratur. Buatlah daftar apa yang ingin kita capai, apa tujuan kita, dan tuliskan bagaimana langkah kita untuk mencapai  tujuan tersebut.
Misalnya kita ingin menghatamkan al-Qur’an dalam satu bulan maka bagaimana agar hal tersebut bisa terwujud. Kita bisa memilih membaca empat halaman setiap selesai shalat atau membaca satu juz ketika shalat tarawih di rumah. Pikirkanlah hal itu dan lakukanlah secara teratur.
Dengan ini mudah-mudahan kita tidak mengulangi apa yang sudah-sudah sehingga ramadhan kali ini benar-benar menjadi katalisator perubahan seumur hidup. Seperti ketika kita mengikuti program diet atau terapi kesehatan, tentu tujuannya bukan sekedar untuk menghilangkan beberapa ons lemak dalam tubuh, tapi lebih dari itu kita bisa sehat sepanjang hidup.

Ayo kita jadikan bulan ramadhan ini sebagai waktu pelatihan. Jangan menyerah dan jangan menunda lagi. Teruslah berjuang, melatih diri untuk tantangan yang akan datang, pastikan bahwa akan ada perubahan kearah kebaikan setelah ramadhan berakhir.


Jazakumullah khairan katshiran

Wassalamu’alaikum wr.wb

Minggu, 29 Maret 2015

LIRIK LAGU : SAKURA BIYORI


Hasil gambar untuk ANIME BLEACH

Lirik lagu Sakura Biyori ost. 10th Bleach Ending song
Romaji lyrics

Sakura Biyori

Juuroku de kimi to ai
Hyakunen no koi wo shita ne
Hirahira to maiochiru
Sakura no hanabira no shita de

Aitakute kakenuketa
Hi no ataru kyuu na sakamichi ya
Kouen no sumi futari no kage wa
Ima mo kawaranu mama

Kimi to boku to "sakura biyori"
Kaze ni yurete maimodoru
Marude nagai yume kara sameta you ni
Miageta saki wa momo-iro no sora

Suki deshita suki deshita
Egao sakisometa kimi ga
Boku dake ga shitte ita
Migigawa yawarakana ibasho

Sakura no shita no yakusoku
"Rainen mo koko ni koyou" tte
Nando mo tashikameatta kedo
Ima mo hatasenu mama

Kimi to boku to "sakura biyori"
Kaze ni sotto yomigaeru
Kimi mo ima dokoka de miteru no kanaa
Ano hi to onaji momo-iro no sora

Oikaketa hibi no naka ni
Kizamareta ashiato wa
Nani yori mo kakegae no nai takaramono

Kimi to boku to "sakura biyori"
Kaze ni yurete maimodoru
Tomedonai omoi ga afuredashite
Namida ga komiageta

Kimi to boku to "sakura biyori"
Kaze ni yurete maimodoru
Mada minu mirai wo mune ni daite
Miageta saki wa momo-iro no sora

CERPEN

Karya :
Azizah Nur Islami


SENTAKAN DAN PUKULAN

Pagi itu aku sedang belajar bahasa Inggris di kamar,
“Assalamu’alaikum.” Terdengar suara dari luar rumah, aku  segera menuju pintu dan membukanya, ternyata itu adalah ayah ku yang baru pulang dari jakarta, aku menjadi sedikit takut, karna ayah selalu memarahiku dan menyiksaku dengan alasan yang kurang jelas. Aku mengambilkan air minum untuk ayah, saat memberikan air minumpun aku harus hati-hati karna jika aku salah, aku akan dimarahi ayah.

Keesokan harinya setelah pulang sekolah aku berbaring dikamar beristirahat sejenak untuk menghilangkan lelah ku, namun ayah berteriak.
“Syifaa… jangan tiduran, beresin kamar dan siapkan makanan !.” teriak ayah mengagetkan ku, aku segera bangkit dan membereskan tempat tidur. Setelah itu aku menyiapkan makanan untuk ayah dan adik, selama mamah dirumah sakit semua pekerjaan harus aku yang melakukannya.

Setelah beres makan aku segera mebereskan piring-piring, aku menyempatkan untuk menonton TV sebentar, namun tidak lama kemudian.
“Syifa.. jangan nonton TV mulu, belajar sana !.” teriak ayah
Aku mematikan TV dengan wajah cemberut, pergi ke kamar dan membaca buku namun aku membaca tidak terlalu serius, karna aku bosan. Saat aku sedang belajar aku mendengar suara “Assalamualaikum.” Aku segera menutup buku ku dan membuka pintu, ternyata itu mamah aku cukup senang melihat mamah, kulihat mamah sangat lelah, aku segera mengambilkannya air minum, setelah itu mamah berbicara kepada ayah dan aku melanjutkan belajar.

Selesai belajar aku mengambil handphone ku, melihat ada sms aku ingin membalasnya namun aku tidak sempat karna teriakan ayah terdengar lagi.
“Syifa.. kalau sudah belajarnya, segera hangatkan nasi.” Teriak ayah, aku menyimpan kembali handphone ku dan pergi ke dapur menghangatkan makanan. Setelah itu aku kembali ke kamar belum ada 1 menit ayah sudah berteriak kembali.
“Syifa.. tolong ambilkan gas.” Teriak ayah, kali ini aku cukup kesal karna tidak ada waktu bersantai untuk ku.

“ini yah gelasnya.” Sambil memberikan gelas kepada ayah. “kamu ngedengerin ayah gak sih ? ayah tadi nyuruh kami ambilkan apa ? .” dengan nada yang tinggi. “tadi di suruh bawa gelas ini gelasnya.” Jawab ku pelan,  “kuping tuh di pasang, ayah tadi nyuruh ambilkan gas bukan gelas, hah ! sudah simpan lagi gelasnya dan ambilkan sekarang gas nya, cepat !.” sentak ayah kepadaku. Tak banyak bicara aku segera menyimpan kembali gelasnya dan memberikan gas kepada ayah, akupun kembali ke kamar sambil melamun.

Keesokan harinya, aku segera menyiapkan makanan, setelah sarapan pagi aku bersiap-siap untuk pergi kesekolah, sebelum berangkat aku pamit kepada kedua orang tua ku.
“Syifa berangkat dulu yah, Assalamu’alaikum.” Ucap ku. “Wa’alaikumsalam.” Jawab mamah dan ayah.

Selama di perjalanan aku banyak melamun, entah kenapa aku merasa banyak fikiran, sesampainya disekolah ada teman yang menghampiri ku.
“Haii.. Syifa, kenapa wajahmu cemberut ? kau terlihat lelah.”ucap teman ku. “Ahh.. tidak, aku tidak apa-apa ko.” Jawab ku sambil tersenyum. “yang bener? Kamu lagi sakit yah ? wajah mu pucat lho.” Tanya temanku sambil menatap ku khawatir. “sudah ku bilang aku baik-baik saja, tenanglah aku tidak sakit, lebih baik sekarang kita ke kelas saja.” Jawab ku. “mmm, baiklah.” Ucap teman ku

Aku dan teman ku menuju kelas, tidak lama kemudian bel sekolahpun berbunyi pertanda kegiatan belajar mengajar akan segera dimulai, saat pelajaran aku tidak terlalu fokus, banyak sekali gangguan dalam fikiran ku, “mungkin aku hanya kelelahan, yang aku butuhkan hanyalah istirahat.” Ucapku dalam hati
Selesai pelajaran disekolah aku segera pulang kerumah, sesampainya disana aku segera menuju kamar ku dan berbaring. Namun tidak lama kemudian ayah memanggil ku, “Syifa.. hangatkan kuah soto.” Teriak ayah. “Baiklah.” Jawabku lemas, wajah ku tampak tidak semangat tanpa di sadari aku menghangatkan nasi dan kembali ke kamar, akhirnya ayah memanggilku kembaili.

“Syifa, sini kamu lihat.. ini kuah soto atau nasi ?.” tanya ayah dengan nada yang tinggi. “itu nasi.” Jawabku merenduk. “ya terus kenapa yang di angetinnya nasi ? kamu punya mata gak sih ? kerjaan kamu bikin kesalahan mulu, bikin orang tua jadi susah tau gak, sekali aja gitu kamu melakukan hal yang benar bikin ayah gak kesel ke kamu, di suruh gitu aja susah banget, pergi ke kamar sana !.” sentak ayah kepada ku.

Aku segera pergi kekamar, aku hanya terdiam berfikir tidak lama kenudian air mata menetes di pipi ku, aku selalu berfikir. “mengapa aku selalu dimarahi ? mengapa kesalahan kecilpun aku terus dimarahi ? mengapa ayah tidak pernah baik kepadaku ? “ dalam hati aku terus menanyakan itu pada diriku sendiri, hingga akhirnya aku tertidur.
Hari ini hari minggu, di pagi hari ayah sudah berteriak lagi.

“Heh, nyuci piring sana.” Teriak ayah kepadaku
Aku segera pergi ke kamar mandi, ku lihat mamah sedang mencuci baju akhirnya aku kembali ke ayah. “ayah, mamahnya lagi nyuci baju.” Ucap ku. “yasudah nyuci bajunya jadi sama kamu, gitu aja susah, jangan banyak alasan !.” jawab ayah. Aku pergi ke kamar mandi lagi. “maah, nyuci bajunya sama aku aja, mamah istirahat saja disana.” ucap ku lembut. “ahh, gausah kalau kamu yang mencuci bajunya, tidak akan bersih !.” jawab mamah.
Aku yang mendengarkan perkataan dari mamah hanya bisa terdiam dan hampir air mata ku ini menetes, aku menguatkan diriku dan kembali ke ayah. “ayah kata mamah, nyuci bajunya sama mamah saja.” Ucapku pelan. Kulihat wajah ayah sangat marah, ayah mengambil sapu dan memukul badan ku, “makanya kalau jadi anak itu yang berguna untuk orang tuanya, ini kerjaannya gitu-gitu aja, orang tua juga jadi gak bisa mengandalkan kamu !.” sentak ayah dan memukulku untuk yang ke dua kalinya, aku menangis kesakitan. Aku melihat mamah aku berharap mamah akan membela ku namun kenyataanya tidak, bahkan mamah tidak melihatku sama sekali, “kalau kamu gak bisa apa-apa gausah jadi anak ayah, lebih baik kamu pergi saja dari rumah, jika kamu tidak ingin menjadi anak ayah gampang kok, tinggal ayah coret nama kamu di kartu keluarga, jadi anak nyebelin banget.” Ayah menyentak ku dan menamparku 2 kali, tangisan ku semakin kencang sambil memanggil-manggil mamah, berharap mamah akan menolong ku.

 aku berlari ke kamar menjauh dari ayah, di kamar tangisan ku menjadi sangat kencang menjerit-jerit kesakitan, lalu mamah menghampiri ku. “Sudah jangan menangis, makanya kamu harus nurut ke orang tua, harus bisa ini dan itu, biar tidak di marahi ayah.” Ucapan mamah tidak membuatku tenang melainkan menambah rasa sakit di hati, aku tidak menjawab ucapan mamah dan terus menangis, hingga mamah pun pergi dari kamar ku, aku berusaha menenangkan hatiku sendiri, aku tertidur dalam keadaan air mataku masih menetes.

Keesokan harinya aku kembali beraktivitas seperti biasa, aku masih teringat tentang kejadian kemarin namun aku berusaha untuk melupakannya, aku tidak terlalu banyak berbicara dan ku lihat ayah tidak berteriak-teriak kembali kepadaku namun ayah masih terlihat sangat tidak menyukai ku, aku pergi ke sesuatu tempat dimana hanya ada aku sendiri disana, disana aku memikirkan kesalahan ku, mengapa aku benar-benar merasa rendah di hadapan orang tua ku sendiri, aku ingin di sayangi seperti yang lainnya tanpa siksaan dan sentakan.

Aku yang sudah kelas 3 SMP memutuskan untuk memperbanyak kegiatan di luar dibandingkan dirumah, aku masih sangat trauma oleh ayahku sendiri, sebenarnya aku ingin mengatakan bahwa aku sangat menyayangi ayah dan mamah, namun aku tidak menyukai cara ayah memperlakukan ku, semua ucapan itu hanya ada didalam hatiku, aku hanya bisa berusaha menjadi lebih baik, agar orang tua ku tahu bahwa aku bisa, meskipun ayah selalu tidak setuju dengan apa yang aku ingin kan, namun aku akan tetap buktikan bahwa aku bisa menjadi orang yang berguna !

AR-RISALAH :BATASAN AURAT WANITA

From :
Ar-Risalah

BATAS AURAT WANITA

Dalam sebuah hadits shahih, Rasulullah SAW pernah bersabda pada anaknya.
“Wahai Asma’ sesungguhnya perempuan itu jika telah baligh tidak pantas menampakan tubuhnya kecuali ini dan ini, sambil menunjukan telapak tangan dan wajahnya.”(HR. Muslim)

Dalam sebuah hadits telah dijelaskan bahwa batsan aurat bagi perempuan adalah seluruh tubuhnya, kecuali muka dan telapak tangan.
Maka semua bagian tubuh wanita adalah aurat, sehingga seluruh tubuh baik dari ujung kaki sampai ujung rambut merupakan aurat bagi perempuan. Setiap anggota tubuh perempuan memiliki daya tarik yang apap bila perempuan menampakan auratnya, maka secara tidak langsung menggoda nafsu birahi laki-laki yang melihatnya. Menurut pandangan islam aurat merupakan sesuatu yang diharamkan untuk di tampakan. Seringkali karena daya tarik yang ditimbulkan oleh aurat manusia terjerumus kedalam kenistaan. Untuk menghindari dan menjaga fitrah manusia sebagai makhluk yang paling mulia, islam telah mengatur batasan-batasan agar umatnya tidak terjerumus kedalam kemaksiatan.

Islam telah memberikan batasan-batsan bagi tiap perilaku antara lelaki dan wanita maupun sebaliknya. Diantara peraturan yang diberikan islam agar umatnya terhindar dari fitnah syahwat adalah sebagai berikut :
1.    Menjaga pandangan mata

“Katakanlah kepada orang-orang yang beriman laki-laki agar mereka menundukan sebagian dari pandangan mata terhadap perempuan dan memelihara kemaluan mereka (menutupinya) yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah mengetahui apa yang mereka kerjakan. Dan katakanlah kepada perempuan beriman, hendaklah mereka menahan pandangannya dan memelihara kemaluannya, dan janganlah mereka menampakan perhiasannya, kecuali yang biasa nampak darinya.” (QS. An-Nur :30-31)


2.    Larangan bersentuhan kulit
“Sesungguhnya salah seorang diantara kamu ditikam dari kepalanya dengan jarum besi, adalah lebih baik dari pada menyentuh seorang yang bukan muhrimnya.” (HR. Tabrani)

3.    Larangan berduaan dengan yang bukan mahram
“Tidak boleh seorang diantara kamu berduaan dengan perempuan lain(yang bukan mahramnya).” (HR. Ahmad)

4.    Larangan ikhtilath
“Apabila kamu meminta sesuatu keperluan kepada mereka, maka mintalah dari belakang tabir.” (QS. Al-Ahzab :53)

Dengan tidak berpandangan langsung, bersentuhan, mengajak berduaan, atau tidak bercampur dalam suatu tempat merupakan wasilah untuk menjauhi adanya berbagai hal yang tidak di inginkan. Juga merupakan sebuah kehormatan bagi kaum perempuan.


Sedangkan batasan aurat wanita terhadap suaminya sama saja dengan batasan aurat suami terhadap istrinya. Karena kedua-duanya adalah mahram yang memiliki haq untuk bergaul

AR-RISALAH

From :
Ar-Risalah

Lupa
Nikmat Allah yang sering terlupa

Siapa yang tak pernah lupa. Saya, anda, atau siapapun pasti pernah lupa. Hanya kadarnya saja yang berbeda. Ada yang sangat pelupa, hingga sulit mengingat. Ada pula yang ingatannya tajam, sehingga sulit lupa.

Sering kali menyesali sifat lupa, hanya karena sedikit kerugian yang diakibatkannya. Kita juga kerap menganggap sifat lupa sebagai pangkal kebodohan, dan sebaliknya sifat ingat sebagai bukti kecerdesan. Orang yang mudah menghafal dianggap sebagai orang yang sangat cerdas. Sebaliknya orang yng mudah lupa dicap sebagai orang bodoh dan ceroboh.
Padahal, andai kita mau merenung sejenak, kita akan menemukan bahwa sifat lupa adalah nikmat yang menakjubkan dari Allah. Sama seperti sifat ingat yang ada pada kita. Bayangkan andai saja Allah tak memberi sifat lupa, maka kita tak akan mampu melupakan setiap kejadian yang kita alami sepanjang hidup. Kita akan terus ingat bagaimana kita menjalani masa kecil.

Setiap kejadian yang menggembirakan  dan menyedihkan, setiap orang yang kita temui, setiap tempat yang kita lewati dan kita tinggali. Semuanya akan membekas jelas dalam ingatan kita. Karena tidak ada sifat lupa dalam diri kita. Mungkin, hidup kita akan semakin berat.

Alhamdulillah, Allah memberikan kita sifat lupa. Sehingga kita dapat melupakan setiap kejadian menyedihkan dalam hidup kita. Melupakan kesalahan orang lain kepada kita, sehingga kita mudah memaafkan mereka. Melupakan amal kebaikan yang kita lakukan, sehingga kita tetap bisa ikhlas dan tidak riya. Dan juga, kita tidak terbebani dosa, ketika kita melakukan kesalahan karena lupa.


“Maka nikmat manakah yang engkau dustakan?.”