Minggu, 29 Maret 2015

CERPEN

Karya :
Azizah Nur Islami


SENTAKAN DAN PUKULAN

Pagi itu aku sedang belajar bahasa Inggris di kamar,
“Assalamu’alaikum.” Terdengar suara dari luar rumah, aku  segera menuju pintu dan membukanya, ternyata itu adalah ayah ku yang baru pulang dari jakarta, aku menjadi sedikit takut, karna ayah selalu memarahiku dan menyiksaku dengan alasan yang kurang jelas. Aku mengambilkan air minum untuk ayah, saat memberikan air minumpun aku harus hati-hati karna jika aku salah, aku akan dimarahi ayah.

Keesokan harinya setelah pulang sekolah aku berbaring dikamar beristirahat sejenak untuk menghilangkan lelah ku, namun ayah berteriak.
“Syifaa… jangan tiduran, beresin kamar dan siapkan makanan !.” teriak ayah mengagetkan ku, aku segera bangkit dan membereskan tempat tidur. Setelah itu aku menyiapkan makanan untuk ayah dan adik, selama mamah dirumah sakit semua pekerjaan harus aku yang melakukannya.

Setelah beres makan aku segera mebereskan piring-piring, aku menyempatkan untuk menonton TV sebentar, namun tidak lama kemudian.
“Syifa.. jangan nonton TV mulu, belajar sana !.” teriak ayah
Aku mematikan TV dengan wajah cemberut, pergi ke kamar dan membaca buku namun aku membaca tidak terlalu serius, karna aku bosan. Saat aku sedang belajar aku mendengar suara “Assalamualaikum.” Aku segera menutup buku ku dan membuka pintu, ternyata itu mamah aku cukup senang melihat mamah, kulihat mamah sangat lelah, aku segera mengambilkannya air minum, setelah itu mamah berbicara kepada ayah dan aku melanjutkan belajar.

Selesai belajar aku mengambil handphone ku, melihat ada sms aku ingin membalasnya namun aku tidak sempat karna teriakan ayah terdengar lagi.
“Syifa.. kalau sudah belajarnya, segera hangatkan nasi.” Teriak ayah, aku menyimpan kembali handphone ku dan pergi ke dapur menghangatkan makanan. Setelah itu aku kembali ke kamar belum ada 1 menit ayah sudah berteriak kembali.
“Syifa.. tolong ambilkan gas.” Teriak ayah, kali ini aku cukup kesal karna tidak ada waktu bersantai untuk ku.

“ini yah gelasnya.” Sambil memberikan gelas kepada ayah. “kamu ngedengerin ayah gak sih ? ayah tadi nyuruh kami ambilkan apa ? .” dengan nada yang tinggi. “tadi di suruh bawa gelas ini gelasnya.” Jawab ku pelan,  “kuping tuh di pasang, ayah tadi nyuruh ambilkan gas bukan gelas, hah ! sudah simpan lagi gelasnya dan ambilkan sekarang gas nya, cepat !.” sentak ayah kepadaku. Tak banyak bicara aku segera menyimpan kembali gelasnya dan memberikan gas kepada ayah, akupun kembali ke kamar sambil melamun.

Keesokan harinya, aku segera menyiapkan makanan, setelah sarapan pagi aku bersiap-siap untuk pergi kesekolah, sebelum berangkat aku pamit kepada kedua orang tua ku.
“Syifa berangkat dulu yah, Assalamu’alaikum.” Ucap ku. “Wa’alaikumsalam.” Jawab mamah dan ayah.

Selama di perjalanan aku banyak melamun, entah kenapa aku merasa banyak fikiran, sesampainya disekolah ada teman yang menghampiri ku.
“Haii.. Syifa, kenapa wajahmu cemberut ? kau terlihat lelah.”ucap teman ku. “Ahh.. tidak, aku tidak apa-apa ko.” Jawab ku sambil tersenyum. “yang bener? Kamu lagi sakit yah ? wajah mu pucat lho.” Tanya temanku sambil menatap ku khawatir. “sudah ku bilang aku baik-baik saja, tenanglah aku tidak sakit, lebih baik sekarang kita ke kelas saja.” Jawab ku. “mmm, baiklah.” Ucap teman ku

Aku dan teman ku menuju kelas, tidak lama kemudian bel sekolahpun berbunyi pertanda kegiatan belajar mengajar akan segera dimulai, saat pelajaran aku tidak terlalu fokus, banyak sekali gangguan dalam fikiran ku, “mungkin aku hanya kelelahan, yang aku butuhkan hanyalah istirahat.” Ucapku dalam hati
Selesai pelajaran disekolah aku segera pulang kerumah, sesampainya disana aku segera menuju kamar ku dan berbaring. Namun tidak lama kemudian ayah memanggil ku, “Syifa.. hangatkan kuah soto.” Teriak ayah. “Baiklah.” Jawabku lemas, wajah ku tampak tidak semangat tanpa di sadari aku menghangatkan nasi dan kembali ke kamar, akhirnya ayah memanggilku kembaili.

“Syifa, sini kamu lihat.. ini kuah soto atau nasi ?.” tanya ayah dengan nada yang tinggi. “itu nasi.” Jawabku merenduk. “ya terus kenapa yang di angetinnya nasi ? kamu punya mata gak sih ? kerjaan kamu bikin kesalahan mulu, bikin orang tua jadi susah tau gak, sekali aja gitu kamu melakukan hal yang benar bikin ayah gak kesel ke kamu, di suruh gitu aja susah banget, pergi ke kamar sana !.” sentak ayah kepada ku.

Aku segera pergi kekamar, aku hanya terdiam berfikir tidak lama kenudian air mata menetes di pipi ku, aku selalu berfikir. “mengapa aku selalu dimarahi ? mengapa kesalahan kecilpun aku terus dimarahi ? mengapa ayah tidak pernah baik kepadaku ? “ dalam hati aku terus menanyakan itu pada diriku sendiri, hingga akhirnya aku tertidur.
Hari ini hari minggu, di pagi hari ayah sudah berteriak lagi.

“Heh, nyuci piring sana.” Teriak ayah kepadaku
Aku segera pergi ke kamar mandi, ku lihat mamah sedang mencuci baju akhirnya aku kembali ke ayah. “ayah, mamahnya lagi nyuci baju.” Ucap ku. “yasudah nyuci bajunya jadi sama kamu, gitu aja susah, jangan banyak alasan !.” jawab ayah. Aku pergi ke kamar mandi lagi. “maah, nyuci bajunya sama aku aja, mamah istirahat saja disana.” ucap ku lembut. “ahh, gausah kalau kamu yang mencuci bajunya, tidak akan bersih !.” jawab mamah.
Aku yang mendengarkan perkataan dari mamah hanya bisa terdiam dan hampir air mata ku ini menetes, aku menguatkan diriku dan kembali ke ayah. “ayah kata mamah, nyuci bajunya sama mamah saja.” Ucapku pelan. Kulihat wajah ayah sangat marah, ayah mengambil sapu dan memukul badan ku, “makanya kalau jadi anak itu yang berguna untuk orang tuanya, ini kerjaannya gitu-gitu aja, orang tua juga jadi gak bisa mengandalkan kamu !.” sentak ayah dan memukulku untuk yang ke dua kalinya, aku menangis kesakitan. Aku melihat mamah aku berharap mamah akan membela ku namun kenyataanya tidak, bahkan mamah tidak melihatku sama sekali, “kalau kamu gak bisa apa-apa gausah jadi anak ayah, lebih baik kamu pergi saja dari rumah, jika kamu tidak ingin menjadi anak ayah gampang kok, tinggal ayah coret nama kamu di kartu keluarga, jadi anak nyebelin banget.” Ayah menyentak ku dan menamparku 2 kali, tangisan ku semakin kencang sambil memanggil-manggil mamah, berharap mamah akan menolong ku.

 aku berlari ke kamar menjauh dari ayah, di kamar tangisan ku menjadi sangat kencang menjerit-jerit kesakitan, lalu mamah menghampiri ku. “Sudah jangan menangis, makanya kamu harus nurut ke orang tua, harus bisa ini dan itu, biar tidak di marahi ayah.” Ucapan mamah tidak membuatku tenang melainkan menambah rasa sakit di hati, aku tidak menjawab ucapan mamah dan terus menangis, hingga mamah pun pergi dari kamar ku, aku berusaha menenangkan hatiku sendiri, aku tertidur dalam keadaan air mataku masih menetes.

Keesokan harinya aku kembali beraktivitas seperti biasa, aku masih teringat tentang kejadian kemarin namun aku berusaha untuk melupakannya, aku tidak terlalu banyak berbicara dan ku lihat ayah tidak berteriak-teriak kembali kepadaku namun ayah masih terlihat sangat tidak menyukai ku, aku pergi ke sesuatu tempat dimana hanya ada aku sendiri disana, disana aku memikirkan kesalahan ku, mengapa aku benar-benar merasa rendah di hadapan orang tua ku sendiri, aku ingin di sayangi seperti yang lainnya tanpa siksaan dan sentakan.

Aku yang sudah kelas 3 SMP memutuskan untuk memperbanyak kegiatan di luar dibandingkan dirumah, aku masih sangat trauma oleh ayahku sendiri, sebenarnya aku ingin mengatakan bahwa aku sangat menyayangi ayah dan mamah, namun aku tidak menyukai cara ayah memperlakukan ku, semua ucapan itu hanya ada didalam hatiku, aku hanya bisa berusaha menjadi lebih baik, agar orang tua ku tahu bahwa aku bisa, meskipun ayah selalu tidak setuju dengan apa yang aku ingin kan, namun aku akan tetap buktikan bahwa aku bisa menjadi orang yang berguna !

Tidak ada komentar:

Posting Komentar