Karya :
Azizah Nur Islami
SENTAKAN DAN PUKULAN
Pagi itu aku sedang belajar
bahasa Inggris di kamar,
“Assalamu’alaikum.”
Terdengar suara dari luar rumah, aku
segera menuju pintu dan membukanya, ternyata itu adalah ayah ku yang
baru pulang dari jakarta, aku menjadi sedikit takut, karna ayah selalu
memarahiku dan menyiksaku dengan alasan yang kurang jelas. Aku mengambilkan air
minum untuk ayah, saat memberikan air minumpun aku harus hati-hati karna jika
aku salah, aku akan dimarahi ayah.
Keesokan harinya setelah
pulang sekolah aku berbaring dikamar beristirahat sejenak untuk menghilangkan
lelah ku, namun ayah berteriak.
“Syifaa… jangan tiduran,
beresin kamar dan siapkan makanan !.” teriak ayah mengagetkan ku, aku segera
bangkit dan membereskan tempat tidur. Setelah itu aku menyiapkan makanan untuk
ayah dan adik, selama mamah dirumah sakit semua pekerjaan harus aku yang
melakukannya.
Setelah beres makan aku
segera mebereskan piring-piring, aku menyempatkan untuk menonton TV sebentar,
namun tidak lama kemudian.
“Syifa.. jangan nonton TV
mulu, belajar sana !.” teriak ayah
Aku mematikan TV dengan
wajah cemberut, pergi ke kamar dan membaca buku namun aku membaca tidak terlalu
serius, karna aku bosan. Saat aku sedang belajar aku mendengar suara
“Assalamualaikum.” Aku segera menutup buku ku dan membuka pintu, ternyata itu
mamah aku cukup senang melihat mamah, kulihat mamah sangat lelah, aku segera
mengambilkannya air minum, setelah itu mamah berbicara kepada ayah dan aku
melanjutkan belajar.
Selesai belajar aku mengambil
handphone ku, melihat ada sms aku ingin membalasnya namun aku tidak sempat
karna teriakan ayah terdengar lagi.
“Syifa.. kalau sudah
belajarnya, segera hangatkan nasi.” Teriak ayah, aku menyimpan kembali
handphone ku dan pergi ke dapur menghangatkan makanan. Setelah itu aku kembali
ke kamar belum ada 1 menit ayah sudah berteriak kembali.
“Syifa.. tolong ambilkan
gas.” Teriak ayah, kali ini aku cukup kesal karna tidak ada waktu bersantai
untuk ku.
“ini yah gelasnya.” Sambil
memberikan gelas kepada ayah. “kamu ngedengerin ayah gak sih ? ayah tadi nyuruh
kami ambilkan apa ? .” dengan nada yang tinggi. “tadi di suruh bawa gelas
ini gelasnya.” Jawab ku pelan, “kuping tuh di pasang, ayah tadi nyuruh
ambilkan gas bukan gelas, hah ! sudah simpan lagi gelasnya dan ambilkan
sekarang gas nya, cepat !.” sentak ayah kepadaku. Tak banyak bicara aku segera
menyimpan kembali gelasnya dan memberikan gas kepada ayah, akupun kembali ke
kamar sambil melamun.
Keesokan harinya, aku segera
menyiapkan makanan, setelah sarapan pagi aku bersiap-siap untuk pergi
kesekolah, sebelum berangkat aku pamit kepada kedua orang tua ku.
“Syifa berangkat dulu yah,
Assalamu’alaikum.” Ucap ku. “Wa’alaikumsalam.” Jawab mamah dan ayah.
Selama di perjalanan aku
banyak melamun, entah kenapa aku merasa banyak fikiran, sesampainya disekolah
ada teman yang menghampiri ku.
“Haii.. Syifa, kenapa
wajahmu cemberut ? kau terlihat lelah.”ucap teman ku. “Ahh.. tidak, aku tidak
apa-apa ko.” Jawab ku sambil tersenyum. “yang bener? Kamu lagi sakit yah ?
wajah mu pucat lho.” Tanya temanku sambil menatap ku khawatir. “sudah ku bilang
aku baik-baik saja, tenanglah aku tidak sakit, lebih baik sekarang kita ke
kelas saja.” Jawab ku. “mmm, baiklah.” Ucap teman ku
Aku dan teman ku menuju
kelas, tidak lama kemudian bel sekolahpun berbunyi pertanda kegiatan belajar
mengajar akan segera dimulai, saat pelajaran aku tidak terlalu fokus, banyak
sekali gangguan dalam fikiran ku, “mungkin aku hanya kelelahan, yang aku
butuhkan hanyalah istirahat.” Ucapku dalam hati
Selesai pelajaran disekolah
aku segera pulang kerumah, sesampainya disana aku segera menuju kamar ku dan
berbaring. Namun tidak lama kemudian ayah memanggil ku, “Syifa.. hangatkan kuah
soto.” Teriak ayah. “Baiklah.” Jawabku lemas, wajah ku tampak tidak semangat
tanpa di sadari aku menghangatkan nasi dan kembali ke kamar, akhirnya ayah
memanggilku kembaili.
“Syifa, sini kamu lihat..
ini kuah soto atau nasi ?.” tanya ayah dengan nada yang tinggi. “itu nasi.” Jawabku
merenduk. “ya terus kenapa yang di angetinnya nasi ? kamu punya mata gak sih ?
kerjaan kamu bikin kesalahan mulu, bikin orang tua jadi susah tau gak, sekali
aja gitu kamu melakukan hal yang benar bikin ayah gak kesel ke kamu, di suruh
gitu aja susah banget, pergi ke kamar sana !.” sentak ayah kepada ku.
Aku segera pergi kekamar,
aku hanya terdiam berfikir tidak lama kenudian air mata menetes di pipi ku, aku
selalu berfikir. “mengapa aku selalu dimarahi ? mengapa kesalahan kecilpun aku
terus dimarahi ? mengapa ayah tidak pernah baik kepadaku ? “ dalam hati aku
terus menanyakan itu pada diriku sendiri, hingga akhirnya aku tertidur.
Hari ini hari minggu, di
pagi hari ayah sudah berteriak lagi.
“Heh, nyuci piring sana.”
Teriak ayah kepadaku
Aku segera pergi ke kamar
mandi, ku lihat mamah sedang mencuci baju akhirnya aku kembali ke ayah. “ayah,
mamahnya lagi nyuci baju.” Ucap ku. “yasudah nyuci bajunya jadi sama kamu, gitu
aja susah, jangan banyak alasan !.” jawab ayah. Aku pergi ke kamar mandi lagi.
“maah, nyuci bajunya sama aku aja, mamah istirahat saja disana.” ucap ku
lembut. “ahh, gausah kalau kamu yang mencuci bajunya, tidak akan bersih !.”
jawab mamah.
Aku yang mendengarkan
perkataan dari mamah hanya bisa terdiam dan hampir air mata ku ini menetes, aku
menguatkan diriku dan kembali ke ayah. “ayah kata mamah, nyuci bajunya sama
mamah saja.” Ucapku pelan. Kulihat wajah ayah sangat marah, ayah mengambil sapu
dan memukul badan ku, “makanya kalau jadi anak itu yang berguna untuk orang
tuanya, ini kerjaannya gitu-gitu aja, orang tua juga jadi gak bisa mengandalkan
kamu !.” sentak ayah dan memukulku untuk yang ke dua kalinya, aku menangis
kesakitan. Aku melihat mamah aku berharap mamah akan membela ku namun
kenyataanya tidak, bahkan mamah tidak melihatku sama sekali, “kalau kamu gak
bisa apa-apa gausah jadi anak ayah, lebih baik kamu pergi saja dari rumah, jika
kamu tidak ingin menjadi anak ayah gampang kok, tinggal ayah coret nama kamu di
kartu keluarga, jadi anak nyebelin banget.” Ayah menyentak ku dan menamparku 2
kali, tangisan ku semakin kencang sambil memanggil-manggil mamah, berharap
mamah akan menolong ku.
aku berlari ke kamar menjauh dari ayah, di
kamar tangisan ku menjadi sangat kencang menjerit-jerit kesakitan, lalu mamah
menghampiri ku. “Sudah jangan menangis, makanya kamu harus nurut ke orang tua,
harus bisa ini dan itu, biar tidak di marahi ayah.” Ucapan mamah tidak
membuatku tenang melainkan menambah rasa sakit di hati, aku tidak menjawab
ucapan mamah dan terus menangis, hingga mamah pun pergi dari kamar ku, aku
berusaha menenangkan hatiku sendiri, aku tertidur dalam keadaan air mataku
masih menetes.
Keesokan harinya aku kembali
beraktivitas seperti biasa, aku masih teringat tentang kejadian kemarin namun
aku berusaha untuk melupakannya, aku tidak terlalu banyak berbicara dan ku
lihat ayah tidak berteriak-teriak kembali kepadaku namun ayah masih terlihat
sangat tidak menyukai ku, aku pergi ke sesuatu tempat dimana hanya ada aku
sendiri disana, disana aku memikirkan kesalahan ku, mengapa aku benar-benar
merasa rendah di hadapan orang tua ku sendiri, aku ingin di sayangi seperti
yang lainnya tanpa siksaan dan sentakan.
Aku yang sudah kelas 3 SMP
memutuskan untuk memperbanyak kegiatan di luar dibandingkan dirumah, aku masih
sangat trauma oleh ayahku sendiri, sebenarnya aku ingin mengatakan bahwa aku
sangat menyayangi ayah dan mamah, namun aku tidak menyukai cara ayah
memperlakukan ku, semua ucapan itu hanya ada didalam hatiku, aku hanya bisa
berusaha menjadi lebih baik, agar orang
tua ku tahu bahwa aku bisa, meskipun ayah selalu tidak setuju dengan apa yang
aku ingin kan, namun aku akan tetap buktikan bahwa aku bisa menjadi orang yang
berguna !
Tidak ada komentar:
Posting Komentar